distort simplification

yes, this is just another WordPress.com weblog

3. 9 Survivors of Paras

Ciahhh.. Sok asik gitu judulnya. Ini dia nih bencana yang paling anyar di trilogi 3 bencana naik gunung. Kejadiannya baru aja kemaren lusa, dan kalo dibayangin detik-detik saat itu masih bisa bikin deg-degan juga.

Jadi di hari terakhir kuliah lapangan Karangsambung itu, kami bersembilan: Eko, Yorga, Eja, Rangga, Ricki, Ronnie, Sapto, Dhafit, dan gue, menjalankan proyek pendakian ke puncak Gunung Paras. Alesannya ya sayang aja, udah sampe sini tapi ga ke puncak Paras. Dan selama 13 hari di Karangsambung, puncak Paras adalah sahabat kita dalam menentukan posisi kita di peta, yang satu lagi puncak Brujul. Benar-benar pasangan deh dua puncak itu sebagai titik tembak favorit kompas kita. Soalnya paling keliatan. Kalo ga keliatan ya terpaksa selingkuh dulu ke puncak yang lain. Pada ngerti ga? Hahaha. Coba googling-googling cara penentuan posisi dengan kompas dan peta, mudah-mudahan bisa ngerti.

Ditambah lagi Paras itu bisa dilihat jelas kenampakan sinklinal ridge-nya, atau punggungan sinklin akibat proses tektonik dan deformasi bla bla blaaa.. Udah ah. hahaha. Intinya Paras itu udah jadi brother kita deh. Makanya timbullah niatan pendakian tersebut.

Diawali pukul 13.45 kita start dari asrama Waturanda kampus LIPI. Dari awal cuaca udah mendung tapi terus aja soalnya selama kita di Karangsambung ini ga pernah bener-bener terjadi hujan, paling mentok juga gerimis. Sangat panas lah intinya disana, mandi matahari gratisss.

Kita mendaki lewat jalur yang sangat terjal. Jadi judulnya bukan mendaki sih, merangkak. Vegetasi penuh dengan duri menambah kerasnya perjalanan. Akar-akar bener-bener sangat membantu menopang kita keatas. Tiap ada daerah yang agak landai kita istirahat. Nah dari sini lah awal petaka dimulai. Hujan turun. Kabut datang. Kita akhirnya berada di awan hujan. Jam 4 tepat kita sampe puncak. Sayang disayang, vegetasi yang lebat dan kabut begitu tebal membuat kita ga bisa liat apa-apa kebawah. Bener-bener semua putih bersih. Hanya sedikit sinar matahari yang berhasil menembus kabut. Itupun sangat sebentar.

Disitu ngobrol sekitar 20 menitan, sekalian istirahat dan berziarah ke kuburan yang ada disana. Katanya (katanya) itu kuburan berasal dari kerajaan Karangsambung (emang ada?) dan gue juga ga terlalu mikirin sih. Lumayan luas dan dipahat sana sini. Rada serem juga emang, jujur aja. Gue mulai muncul pikiran yang ngga-ngga saat itu, haha. Tapi gue berusaha mikir yang laen aja daripada ketakutan sendiri.

Setelah cukup puas, foto-foto, buat miniatur peta Karangsambung dan makan permen relaxa peninggalan pendaki sebelumnya, kita cuss dari puncak. Ini juga bagian dari petakanya. Kita turun gunung dengan jalur yang berbeda dari pas kita naik. Alesannya, kapok soalnya yang tadi itu udah terjal, berduri pula. Jadi sepakat pengen jalur yang laen aja. Kabut masih tebal.

Nah disinilah semuanya dimulai. Gara-gara kabut, kecepatan kita sangat terbatas dan mesti super hati-hati. Sampai pada suatu tempat dimana kita udah ga nemuin jalur apa-apa lagi. Buntu. Entah kenapa. Padahal yang namanya jalur itu pasti nyambungin sesuatu dengan sesuatu kan. Akhirnya kita buat jalur sendiri, menerobos semak-semak. Kabut masih tebal tapi sinar matahari masih ada dan ga ada kendala berarti dalam pencahayaan. Itu terjadi sekitar pukul 5 sore.

Terus menerobos membuat jalur baru, akhirnya tanda-tanda kehidupan ditemukan seperti tanaman pisang dan ketela. Bos Eko berusaha menuju punggungan gunung biar bisa lebih gampang turunnya. Namun entah kenapa pada akhirnya Eko menyimpulkan punggungan itu buntu dan bener-bener terjal, ga bisa kita lalui. Gue sendiri ga ngelihat langsung gimana keadaannya soalnya gue di barisan belakang saat itu. Jadilah kita harus balik lagi keatas dan mencari jalur lain. Ini terjadi pukul 6 kurang, dimana kami sudah sangat kesulitan melihat akibat kabut dan malam yang gelap. Ini benar-benar diluar dugaan, dimana kami memang tidak mempersiapkan pendakian dimalam hari. Estimasi kami di awal kalau ga ada kabut, jam stengah 6 udah sampe kampus. Jadi disini benar-benar panik dan tanpa persiapan. Akhirnya kami memakai dua buah penerangan berupa satu senter dan satu senter HP. Sedih banget ga sih. Formasinya 9 orang dibariskan dengan orang terdepan dan terbelakang pegang dua alat penerangan tadi.

Saat mencari jalur baru, disini ada sebuah keanehan. Eko sebagai orang terdepan ngecek daerah dulu aman apa ngga, terjal apa ngga, ditemani dengan Ronnie. Dengan nada penuh harapan dia bilang, “Kesini nih, udah ada sawah, sini!”. Jarak dia dengan 7 orang lainnya emang rada jauh jadi harus teriak. Kita bingung. Yang kita tahu kita disini ga ngelihat apa-apa selain jurang yang terjal. Eko kami lihat dari jauh terus mendekat ketepian jurang itu, bahkan udah merangkak buat mengecek apa bisa turun buat kita. Langsung lah kita teriak., “Koo!!! Jangan terus! Itu jurang di depan lo!!”. Tapi dianya terus maju. Gara-gara ga direspon, kita teriakin lagi dengan lebih keras. Akhirnya Eko pun mengalah dan mundur ngikutin kita yang mengusulkan jalur lain.

Pokoknya akhir cerita, Eko itu bener-bener ngeliat sawah di mata dia. Tapi sebenernya dari mata kita itu jurang terjal. Entah kenapa itu terjadi. Mungkin pengaruh malam yang gelap gulita dan kabut yang tebal, atau mungkin juga yang ‘lain’. Setelah itu perjalanan kita jadi super hati-hati. Tiap langkah kita kasih aba-aba dan peringatan. Kami turun gunung dengan sangat sangat lambat akibat gelap dan kabut. Juga agar menghindari kesalahan pandangan seperti tadi. Sejak itu tiap kita menentukan jalur, kita bicarain dulu bareng-bareng, kalau semua yakin, baru lah jalan lagi. Terus begitu.

Penglihatan benar-benar masalah serius disini, bahkan dengan senter pun, gue pernah ga yakin bahwa yang orang-orang bilang itu daratan, tapi dimata gue itu jurang terjal. Makanya disini kita bener-bener lambat akibat musyawarah penentuan jalur. Juga tiap ada turunan, kita berhenti memastikan semua orang lengkap turun satu-satu. Kami terus melakukan ini tanpa menemukan petunjuk jalur balik. Benar-benar disini insting dan lampu tower dibawah sebagai acuan kami. Juga telpon dari teman-teman diasrama. It really means so much :)

Kebetulan di Karangsambung ini terdapat tower yang letaknya persis di belakang asrama. Lampunya berwarna merah dibawah dan diatas. Itulah petunjuk terbaik kami saat itu. Apa boleh buat, yang bisa dilakukan ialah memotong kontur, luruss ke arah cahaya merah itu.

Terus turun tanpa jalur, kami mulai kehilangan ketenangan. Panik. Gue sendiri mengalaminya, dan diam ialah solusi terbaik untuk itu. Namun desah nafas teman-teman bener-bener ga bisa berbohong bahwa kami memang panik. Berbagai kalimat negatif keluar sekali dua kali. Air habis sudah. Ricki sebagai penuntun jalan dengan sabar terus melaju walau lambat. Penglihatan tidak ada kemajuan sama sekali. Kabut tebal dan malam semakin gelap, sinar bulan pun sama sekali tidak sampai. Kami berjalan dalam gelap, bahkan tidak tahu kami melangkahkan kaki kemana, apakah ada tanaman atau batu. Yang kami lakukan ialah percaya dengan jalur Ricki sebagai penuntun jalan dan peringatan-peringatan yang diberikannya.

Kepasrahan dan ketidakpastian ini terjadi sampai kira-kira pukul setengah 8 malam. Yang bisa dilakukan saat itu ialah memberi semangat dan berdoa. Tapi jujur, didalem hati gue ga pernah kehilangan harapan walau sangat kecil memang. Gue tetap yakin kita bersembilan akan kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Walau kabut dan gelap menutupi semuanya, gue tau kalau kita terus maju perlahan dan suatu saat pasti menemukan petunjuk.

Doa kami pun didengar. Gue sebagai penuntun jalan saat pendakian awal tadi siang menemukan titik cerah. Ingatan gue saat siang tadi mengatakan bahwa kira-kira disini lah tempat dimana gue tau posisinya. Memang cuman kira-kira, tapi disinilah titik dimana kita tiba-tiba melaju cepat dengan penuh harap. Setelah terus maju, akhirnya kita menemukan sawah. Dan benar, ini adalah jalur saat pemetaan geologi hari ke-dua gue bersama pak Eddy. Keyakinan gue menjadi 100% saat menemukan singakapan intrusi batuan beku Diabase. Ga gue sangka batuan-batuan yang bikin kita hectic beberapa hari yang lalu menjadi penyelamat atas semua ini. Bayangkan kalau ga ada kabut, singkapan sebesar itu pasti bisa kami lihat dari jauh dengan senter. Namun ternyata kami tidak seberuntung itu.

Setelah kami melihat cahaya rumah penduduk yang mengalahkan tebalnya kabut, kamipun melaju cepat seakan tak sabar menemui peradaban. Ini terjadi sekitar pukul 8 malam. Baru kali ini gue kangen asrama dan kasur di LIPI Karangsambung. Hahah. Sesampainya di kampus, penghuni asrama Waturanda memberi applause, begitu juga di Totogan. Yah, mungkin cuman bercanda, tapi bener-bener, we deserved it lah.

Dan bayangkan jam 8 itu juga langsung kuliah malam. Kami bersembilan pun duduk di kursi kuliah seakan tidak terjadi apa-apa. Kuliah malam itu bener-bener ga masuk ke otak gara-gara masih ngebayangin kejadian tadi dan diganggu cerita ke teman-teman lain. Buat gue pribadi, jujur saat itu jantung gue masih ga bisa dikontrol. Haha.

Jadi begitulah akhir dari bencana di Paras ini. Banyak hikmah yang bisa diambil. Permasalahan sebesar apapun akan bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan dengan kerjasama tim. Konflik pasti ada, namun intinya ialah satu tujuan bersama. Really, words can’t describe this survival experience.. :)

*foto menyusul

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.