distort simplification

yes, this is just another WordPress.com weblog

1. Jatuhnya seorang jamaah sholat subuh ke jurang

Ini ialah bencana pertama, yang paling bodoh dan paling unik. Kebetulan ini juga pertamax gue ke puncak. Waktu itu masih jamannya becater dan sok-sok latihan naik gunung. Kita waktu itu ke Manglayang sehabis ujian surveying. Kebetulan pengalaman ini pernah gue tulis di sinisini, dan di sini. Nahhh.. bencananya itu ialah seperti ini. Bacanya tolong sambil dibayangin ya, kalo ga susah deh. Percayalah, kejadian ini susah dipercaya memang.

Waktu itu matahari telah mengintip dari gunung seberang. Sinarnya menghiasai pemandangan kala subuh itu. Dipenuhi hawa dingin embun, gue melangkah mantap untuk sholat subuh. Sejadahpun dibentangkan di tikar bambu. Saaahhh. Seperti iklan-iklan azan, gue solat dipuncak dengan pemandangan kota dibawah dan sedikit sinar mentari. Takbirnya lancar.. Ini adalah takbir paling nikmat dalam hidup gue. Hahaha. Menuju rukuk lancar.. Segala gerakan dalam slow motion ya. Nah disinilah petaka dimulai.

Iklan dulu bro. Sekarang gue bakal jelasin keadaannya biar pada ngerti kejadiannya. Jadi puncak yang kami tempati itu termasuk sempit, dan lahan yang paling tepat untuk solatnya emang rada miring. Kiri-kanan udah jurang. Pokoknya elang tuh terbang dibawah kita deh. Disisi-sisi jurangnya ada semak-semak. Ini puncaknya termasuk yang terbuka, ga kaya Gunung Paras di bencana ke-3. Jadi sama sekali ga ada yang bisa ngehalangin lo buat melihat pemandangan 360′ disekeliling lo. Nah, tadi kan gue bilang pake sejadah diatas tiker kan. Tikernya itu kalo pake kaos kaki liciiiinnn banget. Sip? kebayang yak mudah-mudahan. Iklan selesai.

Nahh persis di saat rukuk itu tiba-tiba gue meluncur. Meluncur secara harfiah. Atau lebih halusnya terperosot. Tapi lebih tepat dibilang meluncur sih. Hahah. Cepet banget soalnya. Jadi dari posisi rukuk itu, berubah menjadi posisi dimana gue ditepian jurang, dengan kaki tanpa pijakan dan dengan tangan merogoh apa yang bisa dirogoh (??). Maksud gue apa aja yang bisa di pegang buat nahan badan gue, yang tertahan oleh semak ditepi jurang itu. Gue diem sekian detik. Shock sama keadaan. Setelah sadar gue ibarat telor di ujung tombak, baru lah minta tolong ke teman-temin yang lagi masak. Dan yang paling keren itu dalam keadaan seperti ini sempet-sempetnya kita ketawa dulu, termasuk gue :D .

Ternyata kombinasi tiker licin+sajadah+kemiringan tanahnya, dapat mengakibatkan gerakan meluncur indah. Untung semua selamat, sajadah selamat, tiker selamat, dan gue selamat. Haha. Thanks buat semak-semak tepian jurang, u know me so well lah. Cerita lebih lengkap di sini. Ini emang repost sih, diceritain lagi dalam rangka melengkapi 3 bencana naik gunung.

di puncak dengan kanan kiri jurang

pemandangan dari puncak

Manglayang selesai, kita lanjut ke Burangrang.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.