distort simplification

yes, this is just another WordPress.com weblog

near death experience

Gue pernah mengalaminya. TKP di Gunung Manglayang pas jaman-jamannya jadi cater (calon Terra). Mungkin berhubungan dengan postingan gue tentang perjalanan ke Manglayang di post-post awal blog ini, tapi ga tau kenapa waktu itu lupa nulis kejadian dibawah ini.

Waktu itu kami berada di puncak ketiga (kalo ga salah). Puncak itu ternyata tak seperti bayangan kami yang bisa digunakan dengan nyaman untuk bermalam dan beraktivitas. Nyatanya sempit sekali, apalagi untuk sembilan orang disana. Yah tentang syalala segala macamnya mungkin bisa dibaca di postingan awal blog. Mari langsung ke intinya.

Waktu di puncak, permukaan kami alasi dengan tikar punya Febrian. Dan itu tikar sangat-sangat licin. Kalau berdiri dengan kaki telanjang ya biasa aja, tapi coba udah pake kaos kaki, harus hati-hati kalau ga mau meluncur (seperti kejadian nanti). Singkat cerita, untuk sholat kami sudah mempersiapkan sajadah. Dan bayangkanlah, sholat di puncak dengan angin sepoi dan matahari temaram, indah bukan? Momennya pas buat selingan azhan di televisi.

Tikar sudah siap. Sajadahpun siap. Dengan mantap gue memulai sholat. Waktu itu gue ga tau keadaan tentram begitu tak akan berlangsung lama. Saat gue ganti posisi menuju rukuk…. BLEESSS… Hilang sudah ketentraman.

Tak diduga, dengan kemiringan permukaan sekian derajat dan tikar yang licin, sajadah tempat gue sholat meluncurrr.. Ya kagetlah gue. Bayangin aja lagi enak-enaknya sholat gitu. Buruknya ya tadi, puncak disini sempit, kanan kiri udah jurang.

SLEBB… akhirnya terakhir gue sadar gue udah ada diposisi dua tangan di puncak, dan dua kaki udah turun kebawah. Kaki berusaha naik keatas, tapi apa daya, terlalu banyak semak-semak. Dan memang gue ga sadar banget kalo itu adalah jurang, soalnya ditutupi semak-semak, eh ga taunya dibalik semak udah ga ada apa-apa lagi. Sial banget. Kaki gue waktu itu bener-bener udah ga ada yang bisa jadiin pijakan. BEH. Sesaat gue shock. Teman-teman yang lain lagi sibuk masak, karena lahan terbatas, kita gantian sholatnya. Gue sempet terdiam beberapa detik meratapi posisi gue yang sulit dipercaya itu. Saat gue sadar, minta tolong lah gue..

“WOI WOI TOLOOONGG!!!” (begitulah kira-kira intinya, ga kebayang betapa bego dan lucunya  kalo gue ngeliat gue sendiri dalam posisi bego itu, plus sambil teriak begitu)

Dan betul saja, reaksi teman-teman sudah sangat gue terduga. Mungkin karena lumayan banyak semak-semak, mereka ga ngeliat dan belom sadar gue udah bablas kebawah. Dan sangat terprediksi sekali, tindakan pertama mereka adalah: tertawa sejelek-jeleknya tawa. Tapi kalo dipikir lagi wajar aja sih mereka ketawa, hahah. Sekian detik dalam posisi begitu sambil ditertawakan dan tak bisa berbuat apa-apa itu adalah kemungkinan terburuk. Dan ga tau kenapa, gue juga ketawa dalam situasi seperti ini. Geblek.

Pas mendekat dan mendekat…. barulah akhirnya (AKHIRNYA) mereka sadar dan menolong. Tapi yah, masih tetap dengan tertawa. Gile emang tu orang-orang. Malah sampe akhirpun ada yang nyesel kenapa gue ga di foto! eh buset dah orang hampir mati sempet-sempetnyaaa…. Ga ngerti lah gue. Hahah. Akhirnya pas gue udah diamankan, diatas kita ketawa bareng ampe sakit sesakit-sakitnya tu perut. Yah, sangat menegangkan memang.

Sekian cerita lama dari Manglayang. Membuat gue lebih bersyukur atas kelanjutan hidup gue setelah itu.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.