2 lagu di gala dinner

Hari Jum’at kemaren ISO Gitar dapet tawaran ngisi acara untuk mengiringi tamu undangan makan malam dengan musik live. Bertempatkan di GSG ITB, kami mempersiapkan 10 lagu dengan 13 pemain. 3 lagu format solo, 5 lagu format duet, dan 2 kuartet. Kebetulan gue ngisi 2 lagu solo gitar dan berikut lagunya:

Cintakan Membawamu – Dewa 19, dibawakan dengan versi Reza Artamevia

Tiba saat mengerti, jerit suara hati
Letih meski mencoba
Melabuhkan rasa yang ada

Mohon tinggal sejenak, lupakanlah waktu
Temani air mataku, teteskan lara

Merajut asa, menjalin mimpi, endapkan sepi-sepi
Cinta ‘kan membawamu,
kembali disini, menuai rindu, membasuh perih
Bawa serta dirimu,
dirimu yang dulu, mencintaiku, apa adanya

Saat dusta mengalir, jujurkanlah hati
Genangkan batin jiwamu, genangkan cinta
Seperti dulu, saat bersama, tak ada keraguan

Saving All My Love For You – Whitney Houston, dibawakan dengan aransemen Shaun Murray

A few stolen moments is all that we share
You’ve got your family, and they need you there
Though I’ve tried to resist, being last on your list
But no other man’s gonna do
So I’m saving all my love for you

It’s not very easy, living all alone
My friends try and tell me, find a man of my own
But each time I try, I just break down and cry
Cause I’d rather be home feeling blue
So I’m saving all my love for you

You used to tell me we’d run away together
Love gives you the right to be free
You said be patient, just wait a little longer
But that’s just an old fantasy

I’ve got to get ready, just a few minutes more
Gonna get that old feeling when you walk through that door
Cause tonight is the night, for feeling alright
We’ll be making love the whole night through
So I’m saving all my love
Yes I’m saving all my love
Yes I’m saving all my love for you

No other woman, is gonna love you more
Cause tonight is the night, that I’m feeling alright
We’ll be making love the whole night through
So I’m saving all my love
Yeah I’m saving all my lovin
Yes I’m saving all my love for you
For you, for you

***

Oh iya, itu gala dinner dalam rangka ITB Fair, ngundang mahasiswa dari universitas seluruh Indonesia.

lidah kampung

“elu tuh Bar.. muke kota, lidah kampung”

-Ayay, ngeliat gue yang hobi makan di pecel lele ‘monggo legendaris’ di depan kosan gue yang dulu.

***

Ga tau sih lo ay itu pecel lele terbaik sepanjang masa.

bencana panggung

Sekarang gue bakal bercerita sedikit tentang perjalanan dari ISO Guitar Ensemble, salah satu divisi di ISO (ITB Student Orchestra). Eits tapi disini bukan perjalanan perjuangan tumpah darah dalam prosesnya, tapi perjalanan mengenai peristiwa unik saat kami tampil: bencana panggung.  Uniknya lagi bencana ini hampiir pasti selalu ada setiap kami unjuk gigi di depan pemirsa sekalian. Berikut cuplikannya:

***

1. Konser perdana ISO.

Bayangkan, konser perdana yang pastinya yang namanya perdana selalu menghadirkan ekspektasi yang lebih. Dan benar, ISO sangat mengerti akan hal ini dan maksimal mempersiapkan konser. Salah satu acaranya adalah penampilan dari ISO gitar, yang menampilkan La Partida. Latihan kami lakukan sejak lama. Tapi apalah daya, disinilah bencana pertama kami dimulai.

Kami berbaris dibelakanag panggung menunggu aba-aba sang pembawa acara. Lalu rencananya kami masuk dan duduk ditempat masing-masing dengan gitar yang udah disiapkan, lalu main, selesai, dan keluar. Simple bukan? Sungguh setelah kami duduk di kursi masing-masing, kami langsung keringat dingin. Ada apa gerangan? Ya, sayang sekali teman kami Andri duduk di kursi yang tidak ada gitarnya!

Celaka banget ga sih, ada salah satu kursi yang tak bergitar? Alhasil dia cuman duduk sepanjang lagu, dengan memposisikan tangannya layaknya memegang kastanyet(alat segede telor buat suara ketukan) menirukan pemain kastanyet, padahal ditangannnya tidak ada apa-apa. Sip. Orang yang paling banyak latihan malah ga dapet gitar. Ampe sekarang kita ga abis pikir, kenapa bisa kurang coba? Fatal.

2. Tampil di Centre Cultural Francais Bandung.

Kami diundang oleh Klab Klassik bandung untuk ikut mengisi acara Ririuangan Gitar Bandung Maen! Untuk itu kami persiapkan lagu Winter 4th Season A. Vivaldi, sekalian latihan buat resital yang beberapa hari setelah itu diadakan. Winter kami bawakan dengan lancar, ya tentu saja dengan pengakuan dosa di belakang panggung yang selalu ada tiap nampil.

Pengakuan dosa. Ya, itulah istilah kami. Saat turun dari panggung dan kembali ke back stage, pasti kami mengadakan pengakuan dosa. Segala kesalahan yang terlihat, terdengar, maupun tidak, semua dikeluarkan saat itu juga. Dan diakhirnya pasti selalu ditutup dengan tawa puas, entah kenapa.

Kembali ke penampilan tadi. Sebagai penutup acara, ternyata ada lagu tambahan bagi kami, yang akan dibawakan di akhir dan maen bersama-sama semua pemain yang tampil di CCF (Centre Culturel Francais) waktu itu. Lagunya adalah The Entertainer. Sebuah lagu sederhana. Tapi sayangnya kami baru tau saat. itu. juga. Dem.

Apa yang kami lakukan?? LIPSING. Khusus gue, jujur gue ungkapkan gue lipsing satu lagu penuh. O yeah. Sensasinya.. Kalian harus coba wahai musisi-musisi. Tentu gue langsung menempatkan diri di bagian belakang dan walaupun mustahil untuk sama sekali tak terlihat penonton, paling tidak pandangan terhadap gue berkurang. Ralat. Pandangan ke jari dan tangan gue berkurang. Fiuh. Satu lagu lipsing dan diakhir penonton bertepuk keras. Cool banget. Hahah.

3. Resital Piano & Gitar ISO

Nah inilah acara paling sukses dengan bencana minimal di panggung. Minimal tapi fatal bagi yang mengalami. Kali ini Paskal dan beberapa formasi di belakang. Sebabnya adalah pembagian suara masing-masing lagu berbeda. Sehingga mau atau tidak, kami ga bisa berganti posisi awal dari lagu pertama. Yang mana di lagu kedua, ketiga dan keempat seharusnya berubah posisi kaya pas latihan. Partiturnya juga bareng-bareng. Jadi yang ga hafal, bisa dipastikan lipsing di lagu berikutnya. Kalo hafal sih ga masalah. Eh ngerti ga sih? Hahah. Anyway paling ga walau saudara Paskal mengalami sedikit lipsing, Handal yang sering ga konsen, dll, tapi kami berhasil saling menutupi. Oh iya, ini juga pertama kali anak gitar 2009 terpilih main di acara ISO, selamat kawan.

4. Pre-concert di Usmar Ismail Hall, TIM.

Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat susah untuk dilakukan. Pertama dari segi formasi, karena keterbatasan ruang, formasi benar-benar lurus satu baris dari ujung ke ujung. Akibatnya kami ga bisa mengkontrol permainan dan tempo masing-masing. Suara gitar di ujung, bagi gue yang di tengah ga kedengeran. Apalagi ruangannya akustik. Suara bakal optimal kedepan kearah penonton, bukan kesamping. Solusinya adalah pake monitor suara. Dan ga hokinya, pas nampil, monitor kanan mati. Jadinya apa yang dikhawatirkan tadi benar-benar terjadi di depan mas Addie MS. Hahah.

Kedua, benar-benar force majour. Sedih bagi sodara Aldi dan Fisi yang bermasalah di stand partiturnya. Bayangkan pemirsa. Selagi aba-aba baru dimulai untuk memainkan lagu, persis saat itu juga, stand partitur terjerembab menjadi horizontal, artinya partitur menghadap keatas. Dengan jarak stand dan si korban, artinya si Aldi ga bisa ngeliat not apa-apa. Dan Anda benar, akhirnya sedikit lipsing di not-not yang ga hafal. Mendengar ceritanya, miris sekali. Bagaimana ekspresi Aldi saat itu, apa yang ada dipikirannya, semua diceritakan live oleh Aldi sendiri saat pengakuan dosa di back stage. Bikin ngakak gile. Untuk Visi, bencananya adalah saat aba-aba dimulai, partitur belum siap dan 4 bar pertama dia ga masuk. Setelah perbaiki stand, barulah menyusul kami.

Sekian.

***

Yah semoga ga terjadi lagi. Tapi justru itu yang membuat kami semakin erat. Sensasinya adalah ketika pengakuan dosa, semua terasa lepas dan tertawa. Kalau ga ada bencana, ga ada pengakuan dosa, ga seru gitu. Hahah.

Kini kami bermimpi untuk bisa menampilkan ensemble 30 orang, yang tadinya pas gue masuk yang aktif sekitar 11 orang. Doakan saja suksesnya dan kita tunggu bencana apa lagi yang menunggu disana.

januari 2010

Januari 2010.

Bulan yang hebat menurut gue. Gimana ngga, lihat pencapaian, err bukan pencapaian kali ya. Tepatnya momen-momen yang gue raih dibulan ini:

1. Gue naik ke puncak Gunung Burangrang pas tahun baru. Disitulah gue menyusun resolusi 2010. Disitu juga gue ngerasain nginep dipuncak yang ada kuburannya. Ya, KUBURAN wahai pemirsa sebangsa dan setanah air. Dem. Kami membuat bivak sendiri, bermalam dengan sensasi dingin yang luar biasa. Detik-detik menjelang tahun baru, kota dibawah menjadi berwarna warni. Pol.

2. Lalu gue dan keluarga gue TG08 (sekarang TERRA muda) tanggal 15-17 berhasil melewati puncak dari proses setengah tahun kebelakang. Kami dilantik di Gunung Burangrang (ya, gue kesana untuk kedua kalinya)  menjadi TERRA. Sungguh momen itu sangat emosional bagi gue. Ohh..

3. Gue berhasil menepati janji target akademis gue sama bapak dosen wali. Ah yang ini biasa aja. Tapi nice lah (ini akting).

4. Gue ulang tahun. Tanggal 22 kemarin gue resmi berkepala dua. Horor abis. Kembali ke ulang tahun tadi, di peta hidup gue umur 26 tahun adalah umur maksimal menikah tapi calon aja belom ada. Ga usah calon deh. Pacar ada beloman. Anjiirr.. 2 dekade bung. Kalo ngutip dari kalimatnya Paskal, gue adalah termasuk golongan biksu, dan teman-teman menyebut rumah gue kuil Dairin (baca Kungfu Boy). Tapi untungnya di ITB banyak teman-teman bergelar sama: biksu. Bahagianya. Oh cinta dimana engkau berada.

Oke, skip.

5. Tanggal 23 adalah hari bersejarah dimana ISO untuk pertama kali bisa tampil di Usmar Ismail Hall berkolaborasi dengan konduktor Addie M.S dan sopranis Aning Katamsi. Dan mencicipi panggung ini adalah sebuah ke-grogian tingkat tinggi. Cukup membuat akting cool gue berantakan. Sip lah.

Selengkapnya: http://www.itb.ac.id/news/2701.xhtml

6. Akhirnya. Akhirnyaa!! Gue bisa kumpul lagi bareng anak Ascova. Pengajian lagi, futsal lagi, nostalgia lagi, makan-makan lagi, dan lagi. Suatu yang udah lama banget ga gue lakuin gara-gara osjur dan osjur. Dulu kalo temen gue ngajak ngapain kek, pasti gue jawab: “sori banget gue ntar osjur” atau, “wah gue ada latfis ntar sore/pagi/siang” atau, “wah ga tau ya, mana tau ada interaksi hari itu” dan favorit gue, “yaahh ga bisaa.. biasalahh” (dan lawan bicara gue langsung ngerti)

Sekarang akhirnya… seneng banget lah gue bisa ngobrol bareng Ascova lagi. Dan yang bikin gue merasa menjadi manusia merdeka adalah ketika teman gue ngajakin sesuatu, gue udah bisa ngejawab “SIIPP!!!” (dengan tidak cool sekali)

Dan begitulah, Januari oh Januari (sambil membuka lembar baru menuju Februari).

kelas agama/english??

Hari pertama semester IV dimulai, tentu dengan kelas-kelas baru. Setelah ngecek ruangan kelas agama gue di hp, dengan mantap gue melangkahkan kaki ke ruangan 9107 GKU Barat dan..

Gue: *ngetok pintu, lalu kecewa berat gue telat masuk hanya 3 menit, dan dosen udah ada di kelas.

Dosen: Yess?? are you in this class??

Gue: *kaget parah.

Buseett bodoh banget gue masuk kelas english.. Pikir gue.

Gue: *tanpa menjawab pertanyaan, sambil senyum-senyum bego langsung melambaikan tangan isyarat gue salah masuk.

Anak-anak di dalem kelas: *ketawa-ketawa.

Gue langsung keluar kelas sambil ngecek hp gue lagi. Bener kok. 9107. EH SERIUS LAH JADI KELAS AGAMANYA DIMANA CROT. Gue bingung dan sempet ngecek hp sambil ngecocokin sama nomer ruangannya berkali-kali. Jelas terpampang 9107. Tiba-tiba sebuah SMS masuk, isinya:

Faisal: Bar lo tadi nyari kelas agama ya? gw di dlm 9107 bar.

SIAL. Gue dijailin dosen. Gue masuk dan si dosen yang belakangan gue ketahui adalah Pak Agus, memberikan senyum kemenangan yang sungguh hangat.

Pantesaaaannn. Pas gue ditanya pake bahasa inggris, gue sempet ngelat sekilas slidenya, ga pake bahasa inggris. Ah berhasil banget gue dibegoin. What a first impression.

picture your life!

“I have a picture of my life 10, 20, 30 years from now. i will make it real so i fight and pray for it”

- Gue dalam versi English, setelah mendapat suntikan moral dari sang idola, Bapak saya nun jauh di Riau sana.

target/tekanan

Alhamdulillah, target semester ini tercapai. Sebuah target yang kira-kira 6 bulan yang lalu hanya omong kosong. Betapa tidak, bahkan yang menentukan target itupun bukan gue, tapi sang dosen wali yang saat ini naik jabatan menjadi kepala program studi.

Gue masih ingat sekali di meja kerjanya ia secara otoriter menentukan target IP gue. Yah mungkin dia kesal juga melihat gue yang walaupun selalu naik dari semester ke semester, tapi grafiknya sangat landai, dan termasuk rendah. Jadilah ia dengan paksa membuat grafik kuadrat di sejarah perjalanan IP gue di ITB ini. Lepas landas. Bagi sebagian orang mungkin itu target biasa, yaa parameter tiap orang beda sih ya, mengikuti batasan masing-masing.

Besok adalah jadwal perwalian dan gue harus menghadap dia lagi. Tentunya dengan senyum lebar karena gue membuktikan kalo gue berhasil. Dan gue yakin dia bakal ngasih target lebih tinggi lagi. Gapapa, justru terimakasih Pak.

Gue hanya bisa bersyukur atas semuanya. Bersyukur pernah diberi tekanan. Bersyukur gue punya tanggungjawab lebih di keluarga. Ya, tekanan memang mengeluarkan potensi-potensi yang ada di dalam diri manusia. Gue percaya itu.

Yang penting usaha maksimal. Itu intinya. Dan gue yakin banyak dari kita, termasuk gue sendiri, belum memberikan usaha maksimal. Ngerasa kan? Mari sama-sama aja introspeksi diri, usaha, dan berdoa. Semoga impian kita bisa tercapai dengan tangan kita sendiri. :)

go for jakor

Bisa dibilang lanjutan dari post sebelumnya..

Yak. Barisanpun tanpa menghiraukan danlap dan kahim, langsung acak adut. Masih sambil meneriakkan ‘TERRA TERRA TERRA!!!’. Berkali-kali.

Melihat teman-teman langsung mencar memperjuangkan hak jakor, gue juga ikut-ikutan, bodo amat dengan komandonya gimana, gue udah setengah tahun haus jakor. Haha.

Celingak-celinguk kesana-kemari, semua TERRA angkatan atas udah pada ada yang mintain. Bukan masalah, demi jakor gue keliling arena pelantikan. Dan dapat!! ada TERRA yang masih belum ada yang mintain.

Gue samperin, ternyata dia adalah TERRA Candra. Dan gue udah sering ngobrol sama dia. Yes.

Gue: TERRA, permisi!!! (teriak dan ga nyantai)

Candra: Yak, ada apa ada apa?? (ngangguk-ngangguk)

Gue: Karena saya udah resmi menjadi TERRA, sama meminta jakor!! (masih teriak dan semangat banget)

Candra: Oke, siapa nama panjang gue??

Gue: Ga tau TERRA.

Candra: Kalo gitu lo cari tau dulu.

Langsung ngacir dari hadapan dia menuju TERRA terdekat. Percobaan pertama ga berhasil, dia malah suruh gue nyari sendiri. Percobaan kedua, BERHASIL! Adalah TERRA Jati yang ngasih tau gue nama panjang TERRA Candra. Lalu gue langsung lapor balik.

Gue: Sudah TERRA! Candra Arya Pradana!

Candra: Sip! Bener! Sekarang lo sanggup berapa??  (berapa disini, kalo cater pasti udah ngerti, adalah push up. Dan ini adalah momen dimana biasanya cater nego-nego jumlah push up dengan TERRA, bukan hanya minta jakor, berbagai konsekuensi yang dulu-dulu biasanya gini juga)

Gue: Terserah TERRA! TERRA yang nentuin! (sumpah, gue ga ngasal ngomong, karena ini masalah jakor coy, berapapun gue jabanin)

Candra: Oke, 20 seri! Gimana!?!? (1 seri = 10 hitungan push up. do the math) 

Gue: SIAAPP!!! (dengan sangat mantap. walau tau kalo gue ga pernah sebanyak itu kalo push up dengan konstan, kalo ga konstan sih 600 ampe 1000 juga bisa, kaya interaksi prabinwal dan cek alat)

Gue: Tapi dengan batasan tubuh saya, ga bisa konstan 200 TERRA! (mulai sadar diri, haha)

Candra: Nyantaii.. gue jg ikut push up! ayok!

Gue: 1!! 2!! 3!! …

Gue terus ngitung dengan sekeras-kerasnya, dengan tempo konstan. Tentunya dengan melepas carrier.

Gue: 49!! 50!! 51!!

Candra: (berdiri) Stop, stop.

Gue: 52!! 53!! (bingung ngeliat Candra berdiri)

Candra: Gue udah ngeliat semangat lo man. Berdiri, berdiri. (sambil melepas jakornya)

Gue: Siap! (sambil menerima jakor dan memasangnya)

Candra: Sip!! semangat terus ya boy! mari majukan TERRA, konribusi dan bla bla bla… (sumpah maaf can, gue ga terlalu merhatiin kata-kata lo yang ini soalnya gue masih shock dengan jakor membalut tubuh gue, haha)

Dan akhirnya gue pun berjakor!!! Segala perjuangan terbayar. Carrier tak lagi berat. Lutut gue yang salah urat tak lagi terasa. Teman-teman yang sakit juga mendadak sembuh. Lah!? Tapi beneran itu.

Akhirnya kamipun larut merayakan jakor yang membalut tubuh kami.

TERRA TERRA TERRA!!

tiga hari untuk selamanya

15-17 Januari 2010.

Tiga hari yang takkan dapat kalian bayangkan. Dan jujur aja, juga ga bisa gue ceritakan lewat tulisan atau langsung. Karena memang sungguh, kalian harus mengalaminya sendiri. Suatu pengalaman hidup yang amat berharga, yang betapa beruntungnya gue, TG08, dan seluruh keluarga TERRA telah mengalami proses ini. Betapa beruntungnya.

Berat. Capek. Remuk. Berkali-kali rasanya ingin jatuh. Jujur, seringkali terbersit dipikiran gue untuk jatuh dan mundur mencari zona aman karena merasa tidak sanggup. Benar-benar merasa tidak sanggup. Semua keluhan menyelimuti otak gue waktu itu.

Tapi disinilah gue dan teman-teman sekarang, dengan menyandang nama TERRA. Bersama TG08, berhasil melewati tiga hari di Gunung Burangrang. Berhasil melewati setengah tahun perjalanan hebat bersama-sama.

Segala keluhan tadi sirna. Segala pikiran ketidaksanggupan gue hilang. Bukan karena gue kuat atau hebat. Bukan karena gue tahan banting. Bukan karena gue tegar.

Tapi karena kami bersama-sama. Kami merasakan perjuangan yang sama. Menghadapai tantangan yang sama. Lelahnya, penderitaannnya, pengorbanannya, kami tanggung dan hadapi bersama dari awal. Semua merasakan hal yang sama. Itulah yang membuat gue seperti kuat sehingga gue bisa melewati semuanya tanpa mundur satu kalipun.

Saat push up dengan carrier sekitar 20-an kg, yang membuat gue bertahan adalah menengadahkan kepala, membuka mata dan melihat teman-teman yang lain melakukan yang sama. Kami berteriak. Kami menghitung. Kami menahan sakitnya. Kami capek bersama. Tapi justru itu yang membuat gue bertahan. Gue adalah bagian dari mereka dan kami akan mengakhiri semuanya bersama-sama.

Tiga hari dua malam itu adalah puncaknya. Di Gunung Burangrang, dengan kabut tebal dan suhu yang sangat rendah, kamipun berjuang. Tanpa sinar matahari kami melewati semuanya. Segala hikmah dan nilai yang kami dapat setengah tahun kebelakang tercermin dalam tiga hari ini.

Gue ga bisa bercerita banyak tentang tiga hari ini karena percuma, kalian harus mengalami sendiri. Satu kata dari gue: BERAT. Benar kata Ellena di salah satu post Tumblr-nya, “Really, you have no idea what we’ve been through”. Gue sangat-sangat setuju len.

Malam terakhir. Masih berkabut tebal, angin kencang dan suhu kira-kira 10′ C. Gue mendapat sebuah kalimat yang akan menjadi pegangan kami selamanya: Keluarga adalah, satu sakit semua sakit. Keluarga adalah, satu senang semua senang. Keluarga adalah, satu sedih semua sedih. Keluarga adalah, SATU UNTUK SEMUA, SEMUA UNTUK SATU.

Inilah puncaknya dari proses setengah tahun kebelakang. Dan Subhanallah, saat kami dilantik, kabut yang 2-3 jam bahkan sampai 2 hari yang lalu sangat tebal, bahkan dengan senterpun sangat sulit untuk memandang, mendadak hilang.

“Hari ini, kegigihan dan semangat kalian menjadikan malam yang penuh kabut menjadi penuh warna!!  hari ini, 17 Januari 2010, dengan Gunung Burangrang sebagai saksi, TG 2008 dengan resmi saya lantik!!!”  Begitu kira-kira sang ketua himpunan berteriak sangat keras.

Momen tak terduga itu datang tiba-tiba, saat tekanan sedang tinggi-tingginya, barisan kami diperintahkan untuk balik kanan dan.. Subhanallah.

Dihadapan kami, terhampar lampu-lampu indah perkotaan dibawah sana. Diatasnya, langit bertaburkan bintang-bintang. Benar-benar banyak dan tengah bersinar bagai menyambut teriakan sang kahim. Kabut yang begitu tebal seakan tak pernah ada. Api unggun yang berkobar lebih mambakar kami saat kahim bertaka: “TERRA TERRA TERRA!!!”

Tiga kata itu entah berapa lama terdengar terus tanpa jeda.

Ya, malam itu kami menjadi orange. Kami menjadi TERRA.

TERRA TERRA TERRA!!!

teriakan saya

“hey you girls, beware from the unoriginal!!”

- me myself, after seeing reality and bla bla bla