Sekarang gue bakal bercerita sedikit tentang perjalanan dari ISO Guitar Ensemble, salah satu divisi di ISO (ITB Student Orchestra). Eits tapi disini bukan perjalanan perjuangan tumpah darah dalam prosesnya, tapi perjalanan mengenai peristiwa unik saat kami tampil: bencana panggung. Uniknya lagi bencana ini hampiir pasti selalu ada setiap kami unjuk gigi di depan pemirsa sekalian. Berikut cuplikannya:
***
1. Konser perdana ISO.
Bayangkan, konser perdana yang pastinya yang namanya perdana selalu menghadirkan ekspektasi yang lebih. Dan benar, ISO sangat mengerti akan hal ini dan maksimal mempersiapkan konser. Salah satu acaranya adalah penampilan dari ISO gitar, yang menampilkan La Partida. Latihan kami lakukan sejak lama. Tapi apalah daya, disinilah bencana pertama kami dimulai.
Kami berbaris dibelakanag panggung menunggu aba-aba sang pembawa acara. Lalu rencananya kami masuk dan duduk ditempat masing-masing dengan gitar yang udah disiapkan, lalu main, selesai, dan keluar. Simple bukan? Sungguh setelah kami duduk di kursi masing-masing, kami langsung keringat dingin. Ada apa gerangan? Ya, sayang sekali teman kami Andri duduk di kursi yang tidak ada gitarnya!
Celaka banget ga sih, ada salah satu kursi yang tak bergitar? Alhasil dia cuman duduk sepanjang lagu, dengan memposisikan tangannya layaknya memegang kastanyet(alat segede telor buat suara ketukan) menirukan pemain kastanyet, padahal ditangannnya tidak ada apa-apa. Sip. Orang yang paling banyak latihan malah ga dapet gitar. Ampe sekarang kita ga abis pikir, kenapa bisa kurang coba? Fatal.
2. Tampil di Centre Cultural Francais Bandung.
Kami diundang oleh Klab Klassik bandung untuk ikut mengisi acara Ririuangan Gitar Bandung Maen! Untuk itu kami persiapkan lagu Winter 4th Season A. Vivaldi, sekalian latihan buat resital yang beberapa hari setelah itu diadakan. Winter kami bawakan dengan lancar, ya tentu saja dengan pengakuan dosa di belakang panggung yang selalu ada tiap nampil.
Pengakuan dosa. Ya, itulah istilah kami. Saat turun dari panggung dan kembali ke back stage, pasti kami mengadakan pengakuan dosa. Segala kesalahan yang terlihat, terdengar, maupun tidak, semua dikeluarkan saat itu juga. Dan diakhirnya pasti selalu ditutup dengan tawa puas, entah kenapa.
Kembali ke penampilan tadi. Sebagai penutup acara, ternyata ada lagu tambahan bagi kami, yang akan dibawakan di akhir dan maen bersama-sama semua pemain yang tampil di CCF (Centre Culturel Francais) waktu itu. Lagunya adalah The Entertainer. Sebuah lagu sederhana. Tapi sayangnya kami baru tau saat. itu. juga. Dem.
Apa yang kami lakukan?? LIPSING. Khusus gue, jujur gue ungkapkan gue lipsing satu lagu penuh. O yeah. Sensasinya.. Kalian harus coba wahai musisi-musisi. Tentu gue langsung menempatkan diri di bagian belakang dan walaupun mustahil untuk sama sekali tak terlihat penonton, paling tidak pandangan terhadap gue berkurang. Ralat. Pandangan ke jari dan tangan gue berkurang. Fiuh. Satu lagu lipsing dan diakhir penonton bertepuk keras. Cool banget. Hahah.
3. Resital Piano & Gitar ISO
Nah inilah acara paling sukses dengan bencana minimal di panggung. Minimal tapi fatal bagi yang mengalami. Kali ini Paskal dan beberapa formasi di belakang. Sebabnya adalah pembagian suara masing-masing lagu berbeda. Sehingga mau atau tidak, kami ga bisa berganti posisi awal dari lagu pertama. Yang mana di lagu kedua, ketiga dan keempat seharusnya berubah posisi kaya pas latihan. Partiturnya juga bareng-bareng. Jadi yang ga hafal, bisa dipastikan lipsing di lagu berikutnya. Kalo hafal sih ga masalah. Eh ngerti ga sih? Hahah. Anyway paling ga walau saudara Paskal mengalami sedikit lipsing, Handal yang sering ga konsen, dll, tapi kami berhasil saling menutupi. Oh iya, ini juga pertama kali anak gitar 2009 terpilih main di acara ISO, selamat kawan.
4. Pre-concert di Usmar Ismail Hall, TIM.
Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat susah untuk dilakukan. Pertama dari segi formasi, karena keterbatasan ruang, formasi benar-benar lurus satu baris dari ujung ke ujung. Akibatnya kami ga bisa mengkontrol permainan dan tempo masing-masing. Suara gitar di ujung, bagi gue yang di tengah ga kedengeran. Apalagi ruangannya akustik. Suara bakal optimal kedepan kearah penonton, bukan kesamping. Solusinya adalah pake monitor suara. Dan ga hokinya, pas nampil, monitor kanan mati. Jadinya apa yang dikhawatirkan tadi benar-benar terjadi di depan mas Addie MS. Hahah.
Kedua, benar-benar force majour. Sedih bagi sodara Aldi dan Fisi yang bermasalah di stand partiturnya. Bayangkan pemirsa. Selagi aba-aba baru dimulai untuk memainkan lagu, persis saat itu juga, stand partitur terjerembab menjadi horizontal, artinya partitur menghadap keatas. Dengan jarak stand dan si korban, artinya si Aldi ga bisa ngeliat not apa-apa. Dan Anda benar, akhirnya sedikit lipsing di not-not yang ga hafal. Mendengar ceritanya, miris sekali. Bagaimana ekspresi Aldi saat itu, apa yang ada dipikirannya, semua diceritakan live oleh Aldi sendiri saat pengakuan dosa di back stage. Bikin ngakak gile. Untuk Visi, bencananya adalah saat aba-aba dimulai, partitur belum siap dan 4 bar pertama dia ga masuk. Setelah perbaiki stand, barulah menyusul kami.
Sekian.
***
Yah semoga ga terjadi lagi. Tapi justru itu yang membuat kami semakin erat. Sensasinya adalah ketika pengakuan dosa, semua terasa lepas dan tertawa. Kalau ga ada bencana, ga ada pengakuan dosa, ga seru gitu. Hahah.
Kini kami bermimpi untuk bisa menampilkan ensemble 30 orang, yang tadinya pas gue masuk yang aktif sekitar 11 orang. Doakan saja suksesnya dan kita tunggu bencana apa lagi yang menunggu disana.